Mulutmu Harimaumu
Mulutmu Harimaumu adalah sebuah pribahasa atau pepatah yang artinya kurang lebih : karena kesalahan berucap atau berkata-kata maka akan berakibat buruk pada diri sendiri. Ibarat kita bermain dengan harimau, maka sangat mungkin harimau terebut menerkam kita.
Mulutmu Harimaumu identik dengan mulutmu ibarat pedang, kata-kata yang terlontar dari mulut kita dikatakan sebagai lebih tajam dari pedang. Seperti diatas, karena kesalahan berucap dapat mengakibatkan pertumpahan darah dan bahkan kerusuhan massal. Atau bahkan akibat dari ucapan tersebut, diri sendirilah yang menerima resiko negatifnya, misalnya perlakuan buruk dan pembunuhan.
Pepatah Mulutmu Harimaumu tepat untuk menggambarkan peristiwa yang dialami oleh seorang wartawan Arab Saudi. Karena kicauan di akun twitter-nya, dia harus berhadapan dengan Mahkamah Syariah Arab Saudi dengan ancaman hukuman pancung. Walau tidak sama persis, tetapi apa yang ditulisnya dalam akun twitter milik wartawan tersebut merupakan ungkapan pikiran dan hatinya. Sekalipun pengungkapannya lewat bahasa tulis.
Mulut adalah media untuk mengartikulasikan segala yang ada dalam pikiran dan hati. Ucapan merupakan cerminan dari dua hal tersebut. Sama halnya dengan pena dan komputer yang menjadi alat untuk memvisualkan gagasan dalam pikiran dan hati sehingga dapat dibaca oleh banyak orang. Ungkapan pikiran dan hati, dengan media apapun tentu mempunyai tujuan yaitu dapat dibaca dan diketahui banyak orang. Apalagi kalau pengungkapannya melalui media sosial semisal facebook dan twitter dan juga disebarluaskan melalui jaringan internet…wah bisa mendunia tentu saja.
Terkait dengan pepatah mulutmu harimaumu diatas, adalah seorang wartawan Arab Saudi yang bernama Hamza Kasghari yang karena keisengannya menulis komentar tentang Nabi Muhammad saat maulid Nabi dengan kalimat yang dianggap menghina maka dia harus berhadapan dengan Mahkamah Syariah Arab Saudi dengan ancaman hukuman pancung.
Dalam komentar twitternya dia mengatakan :”Saya mengasihi hal-hal tentang Anda dan saya membenci hal-hal tentang Anda dan banyak hal yang tidak saya mengerti tentang Anda. Saya tidak akan berdoa untuk Anda.”
Tulisan tersebut memicu pulurah ribu tanggapan kemarahan dan menginginkan agar dia dihukum pancung. Karena ketakutan ia ingin melarikan diri ke Selandia Baru dengan transit di Malaysia. Kemudian oleh pemerintah Malaysia dia dideportasi ke Arab Saudi. Ia diakatakan telah murtad dan kafir.
Kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad sesungguhnya tidak kali ini terjadi. Dulu ada sebuah novel karangan Salman Rusdhi, warga Inggris keturunan India, dengan judul “The Satanic Verses” juga disinyalir menghina Nabi Muhammad. Maka pemerintah Iran mengeluarkan fatwa bahwa Salman Rusdhi harus duhukum mati. Dan barang siapa yang dapat membunuhnya kan mendapat hadiah 1 milyar dollar.
Di Indonesia juga pernah ada. Tokohnya adalah budayawan Arswendo Atmowiloto. Pada saat sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Monitor, dia mengadakan polling tentang tokoh-tokoh dunia. Dan salah satu tokoh yang menjadi obyek pilihan adalah Nabi Muhammad SAW. Hasil dari polling tersebut menempatkan Nabi Muhammad SAW pada peringkat 11 (kalau tidak salah ingat) dan kalah oleh tokoh-tokoh lain bahkan oleh Arwendo sendiri.
Apa yang dilakukan oleh Arswendo A dianggap merendahkan Nabi Muhammad yang merupakan tokoh panutan dan sangat dihormati dalam keyakinan Umat Islam. Mensejajarkan Seorang Nabi dengan manusia biasa adalah kejahatan keyakinan. Maka kemudian umat Islam Indonesia marah dan menuntunya. karena tindakannya tersebut, kemudian Arswendo A dipenjara hingga bertahun-tahun lamanya.
Peristiwa-peristiwa diatas dapat kita ambil hikmah dan menjadikannya pelajaran bagi kita semua. Ada baiknya kita meperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- jangan sampai melakukan penghinaan atau hal-hal yang bisa dikategorikan penghinaan terhadap keyakinan orang atau kelompok lain. Dalam QS. Al-Hujurat : 11 sangat jelas adanya larangan menghina suatu kaum. Menghina sesama manusia biasa saja dilarang, apalagi menghinan seorang Nabi
- Berhati-hati dalam mengungkapkan pikiran dan isi hati, baik secara verbal maupun tulisan dengan memanfaatkan media online. Ingat bahwa ucapan (ungkapan isi hati dan pikiran) yang baik adalah bagian dari indikator keiamanan
- bijaklah dalam memanfaatkan media. Media hanyalah sebuah alat. Apapun jadinya sangat tergantung kepada penggunanya. Hal ini sesuai dengan kaedah fiqh : للوسائل حكم المقاسد : “media atau sarana hukumnya tergantung pada tujuan pemakainya”
- قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
Muslim yang baik adalah muslim yang orang lain tidak terganggu oleh lisan (tulisan dan ungkapan lain : pen) dan tangannya. (HR Bukhari Muslim)
Demikian artikel tentang Mulutmu Harimaumu dan fakta seputar dampak dari kesalahan berbicara dan menulis di media sosial. Semoga bermanfaat.
Artikel Terkait
- Pendidikan Anak sesuai Alquran
- Islam dan Bahaya Narkoba
- Teguh Memegang Janji
- Kejujuran : Mission Possible Ujian Nasional
- Seputar Memudarnya Jati Diri Bangsa
- Kiat ESEMKA (SMK) : Sebuah Catatan
- Tips Islami Menghadapi Ujian Nasional (UN)
- Beberapa Pengertian dan Definisi Islam
- Materi Dasar Latihan Pidato Untuk Siswa SMA
- Pengertian Nadzar dan Macam-macamnya





wah makasih gan, ane jadi harus berhati hati dalam berbicara. berarti klo koment di sini di angap perpanjangan mulut, boleh di bilang tulisanmu harimaumu. bener ga gan? supaya kita lebih hati hati
ya betul, maka kita semua harus hati-hati