Fenomena Mubaligh Karbitan

Tuesday, October 30th 2012. | Masalah Agama

Mubaligh karbitan-dai karbitan-dai instan-ustadz foto copyMubaligh Karbitan dapat disebut juga dengan dai karbitan atau dai instan atau ustadz foto copy. Mubaligh Karbitan menyampaikan dakwah instan. Mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy adalah juru dakwa yang tidak mempunyai bekal ilmu yang cukup namun karena kepentingan komersial tertentu kemudian dipoles dan didandani sebagai seorang ulama untuk menyampaikan dakwah Islam kepada masyarakat luas dengan media (utama) televisi.

Mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy memberikan dakwah Islam dalam bentuk instan. Dakwah instan adalah dakwah yang dilakukan oleh para mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopyyang materi dakwahnya tidak mencerminkan kedalaman ilmu tetapi lebih pada skenario yang sudah diatur layaknya sebuah film dan sinetron.

Para mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy penyampai dakwah instan sesungguhnya bukanlah seorang mubaligh, dai dan juru dakwah. Mereka juga bukan seorang ahli Agama Islam yang ilmunya sangat dalam dan diakui. Mereka bukan siapa-siapa dalam hal ilmu agama Islam apalagi Ulama atau Kyai pemimpin pondok pesantren yang memiliki ribuan santri. Para mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy penyampai dakwah instan adalah orang “biasa” yang dipoles dan didandani dan dikenakan baju ustadz dan disuruh akting layaknya seorang mubaligh dan ulama sungguhan.

Akting mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan, ustadz fotocopy penyampai dakwah instan dilakukan untuk kepentingan komersial semata. Muatan-muatan dakwah Islamnya sangat rendah dan tidak bermutu. Perilaku mereka di layar televisi lebih mencerminkan seorang artis dan selebriti daripada seorang mubaligh tulen pemberi fatwa Agama Islam.

Mubaligh, dai, juru dakwa, apalagi kyai dan ulama adalah pribadi-pribadi mulia yang ilmu dan prilakunya menjadi teladan dan panutan setiap umat. Mereka adalah orang-orang tawadhu’, rendah hati, jauh dari glamaour kehidupan dunia serta ikhlas. Mereka mendapat julukan mubaligh, dai, juru dakwah, kyai dan ulama bukan secara instan. Mereka mendapatkannya karena memang prilaku dan ilmunya sangat mumpuni. Julukan-julukan itu didapatkan bukan karena skenario dan permintaan tetapi lebih karena adanya pengakuan dari masyarakat luas. Bandingkan dengan mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy penyampai dakwah instan. Mereka adalah orang-orang yang glamour dan berprilaku lebih seperti selebriti dari pada mubaligh. Bicara agamanya dangkal dan dipaksakan oleh kepentingan komersial kapitalisme media televisi.

Kita tidak paham dengan logika media televisi kita. Kenapa lebih memilih para mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy penyampai dakwah instan daripada ulama dan kyai sungguhan dengan bekal ilmu yang sangat mumpuni. Bandingkan dengan negara-negara Islam lainnya. Televisi-televisi di negara-negara Islam yang lain menampilkan ulama-ulama besar untuk menyampaikan dakwah Islam. Dakwah Islam adalah bagaimana menyampaikan Islam kepada masyarakat dengan berdasar Ilmu yang memadai dan bukan karena kepentingan iklan.

Di Qatar, acara dakwah Islam menghadirkan ulama besar dunia sekaliber Yusuf Qardhawi. Mereka paham karena memahamkan Islam kepada masyarakat luas tidak boleh sembarang orang yang asal comot tetapi harus benar-benar yang memiliki bobot keilmuan yang cukup. Mereka tidak mau menggunakan mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy penyampai dakwah instan seperti televisi di Indonesia. Apakah di Indonesia tidak ada ulama dan kyai yang berkaliber keilmuannya? Tentu saja banyak. Ulama-ulama dan kyai yang benar-benar menguasai ilmuĀ  Agama Islam di Indonesia sangatlah banyak. Tetapi memang itulah anehnya di Indonesia. Televisi kita lebih menyukai mereka yang dapat berakting sebagai ulama dan kyai daripada menggunakan ulama dan kyai yang sebenarnya.

Kriteria Mubaligh TV Indonesia

Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk menjadi mubaligh di televisi. Dan ketiga kriteria itu justru yang dapat memenuhinya adalah para mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadzfoto copy penyampai dakwah instan. Maklum saja karena ketiga kriteria tersebut ngawur dan aneh. Ketiga kriteria tersebut diungkapkan oleh Prof Dr. Yunahar Ilyas, Lc, M.Ag. ketika belaiu bertanya kepada kru sebuah stasiun televisi. Kriteria tersebut adalah :

  1. orang dengan wajah unik
  2. orang yang berwajah ganteng atau cantik
  3. dan orang yang lucu

Coba perhatikan, sama sekali tidak ada kriteria penguasaan ilmu Agama Islam. Aneh bukan? Televisi kita mau cari artis dan pelawak atau juru dakwah penyambung lidah risalah Rasul? Itulah faktanya…sehingga wajar kalau Indonesia memang negeri sinetron, sandiwara dan lelucon. Meskipun diberi label dakwah Islam, tetapi tetap saja lebih sebagai tontonan daripada sebagai tuntunan.

Rekan-rekan pembaca, saya tidak tahu posisi Anda ketika membicarakan mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy penyampai dakwah instan ini.

tags: