Kaidah Fiqh Tentang Niat

Friday, November 11th 2011. | Masalah Agama
Ulama salaf maupun khalaf banyak memberikan perhatian kepada masalah niat. Maka dibuatlah kaidah fikih atau fiqh tentang niat tersebut. Niat merupakan hal sangat penting dalam Ibadah. Karena niat sangat menentukan kualitas ibadah seseorang, diterima atau tidak, dan ikhlas atau tidak.
 
Ada banyak hal tentang niat. Misalnya adalah pengertian atau definisi niat, lafal niat, hukum niat, niat yang ikhlas, pentingnya niat, fiqih niat, kaidah fiqih tentang niat, dalil niat, cara niat, apabila tidak berniat, niat shalat, niat puasa dan sebagainya.  Materi Dakwah Islam dan Kultum menyajikan sebagiannya untuk Anda.
A. Pendahuluan
1. Pengertian
Niat adalah kehendak hati untuk melakukan sesuatu perbuatan bersamaan dengan pelaksanaannya.1 Berkaitan dengan kehendak, As-Subki, sebagaimana dikutip as-Suyuthi, membaginya dalam lima tingkatan, yaitu al-Hajis, al-Khathir, hadis an-nafs, al-hamm dan al-azm.2 Niat menempati posisi paling awal dalam setiap awal perbuatan seseorang. Karena demikian pentingnya, maka niat dikategorikan sebagai rukun dalam setiap ibadah. Sementara itu Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal memposisikan niat sebagai syarat.3 Sebagai rukun ibadah, maka niat berperan dalam menentukan sah dan tidaknya sebuah amal perbuatan.4
Urgensi niat juga dapat dilihat dari pendapat-pendapat ulama. Imam Ahmad bin Hanbal5 mengkategorikan niat sebagai sepertiga dari ilmu. Hal ini disebabkan,  hadits  niat  merupakan  satu  dari  tiga hadits yang menjadi tempat kembali seluruh ketentuan hukum. Ada juga yang berpedapat bahwa niat adalah seperempat ilmu. Tentu ini terkait dengan hadits tentang niat merupakan satu di antara empat hadits yang menjadi sandaran semua ketentuan hukum.6
Imam Al-Baihaqi, sebagaimana dikutip Jaih Mubarak, menyebutkan bahwa niat dianggap sebagai sepertiga ilmu karena amal perbuatan manusia terletak pada tiga hal, yaitu hati, lisan dan indera (anggota badan). Niat merupakan satu diantara tiga bagian dimaksud.7
Dalam pandangan Quraish Shihab, untuk membuktikan adanya niat biasanya dilihat dari bacaan basmalah. Kata bi yang diterjemahkan “dengan” dikaitkan dengan kata “memulai”, sehingga pengucap basmalah pada hakekatnya berkata : “Dengan (atau demi) Allah SWT saya memulai (pekerjaan).”8
2. Dalil-dalil tentang niat
Dalam Al-Qur’an maupun hadits terdapat dalil-dalil yang dijadikan dasar niat. Dalil-dalil tersebut adalah antara lain :
a.   وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَِ
“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan kepada-Nya dalam agama yang lurus”.9
b.   وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا

“Barangsiapa yang menghendaki pahala dunia niscaya Kami berikan kepadanya pahala di dunia itu, dan barangsiapa yang menghendaki pahala akhirat niscaya Kami berikan pula pahala akhirat itu”.10

c.   إنما الأعمال بالنيات  وإنما لكل امرئ ما نوى  
“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat. Sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu mengikuti niatnya”.
d.   يبعثهم الله على   نياتهم12
“Allah SWT akan membangkitakan manusia (setelah kematiannya) atas dasar niatnya”.
e.   نية المؤمن خير من عمله13
“Niat orang mukmin itu lebih baik daripada perbuatannya”.
B. Kaidah Fiqh Tentang Niat
Kaidah fiqh tentang niat adalah لاثواب الا بالنية14 dan الامور بمقاصدها15. Di sini tampak ada dua kaidah. Dua kaidah ini dikemukakan oleh aliran Hanafi. Berbeda dengan aliran Syafi’i yang hanya mengunakan satu kaidah yaitu الامور بمقاصدها16.
Kaidah fiqh tentang niat ini adalah termasuk lima atau enam kaidah asasi. Ada lima kaidah asasi adalah pendapat Jalaluddin As-Syuyuthi17, sedangkan yang berpendapat bahwa kaidah asasi ada enam adalah Ibnu Nujaim.18 Bagi yang lima, selain kaidah الامور بمقاصدها , empat yang lainnya adalah pertama اليقين لايزال بالشك19, kedua, المشقة تجلب التيسر20 , ketiga, الضرر يزال21 , dan keempat, العادة محكمة22. Adapun bagi Ibnu Nujaim, enam kaidah asasi tersebut adalah dua kaidah tentang niat di atas ditambah dengan empat kaidah yang disebutkan terakhir.
Dalam kaitan niat ini, ada beberapa kaidah lain. Kaidah-kaidah tersebut adalah sebagai berikut :
1. مالا يشترط التعرض له جملة وتفصيلا اذا عينه واخطأ لم يضر23
“Amalan yang tidak disyaratkan untuk dijelaskan, baik secara global maupun terperinci, apabila kemudian dipastikan dan ternyata salah maka kesalahannya tidak membatalkan.“
2. وما يسترط فيه التعرض فالخطأ فيه مبطل24
“Suatau amalan yang disyaratkan untuk dijelaskan, maka kesalahannya akan membatalkan perbuatanya.”
3. وما يجب التعرض له جملة ولا يشترط تعيينه تفصيلا اذا عينه فأخطأ ضر25
“Suatu amalan yang harus dijelaskan secara garis besarnya dan tidak disyaratkan untuk terperinci, kemudian disebutkan secara terperinci dan ternyata salah maka membatalkan.”
4. النية في اليمين تخصص الفظ العام ولا تعمم الخاص26
“Niat dalam sumpah mengkhususkan lafal umum, dan tidak pula munjadikan umum pada lafal yang khusus.”
5. مقاصد الفظ على نية اللافظ الا في موضع واحد وهواليمين عند القاض
ى فاءنهأ على نية القاض
27.
“Maksud dari lafal menurut niat orang yang mengucapkannya, kecuali dalam satu tempat yaitu dalam sumpah di hadapan qadli, dalam keadaan demikian mksud lafal menurut niat qadli.”
6. العبرة في العقود للمقاصد والمعانى لا للألفاظ والمبانى28
“Yang dimaksud dalam akad adalah maksud atau makna bukan lafal atau bentuk perkataan.”
7. المنقطع عن العبادة لعذر من اعذارها اذا نوا حضورها لولا العذر حصل له ثوابها29
“Seseorang yang tidak dapat melaksanakan ibadah karena suatu halangan, padahal ia berniat untuk melakukannya jika tiada halangan, maka ia mendapatkan pahala.”
8. الاشتغال بغير   المقصود  إعراض عن   المقصود30
“Berbuat yang tidak dimaksud berarti berpaling dari yang dimaksud”
9. المباشر  ضامن وإن لم يتعمد31
“Yang berbuat langsung adalah yang bertanggung jawab, meskipun tidak disengaja”
10. المتسبب  لا يضمن إلا بالتعمد32
“Orang yang berbuat dan menimbulkan sebab terjadi sesuatu, tidak bertanggung jawab kecuali dengan sengaja”.
Kaidah-kaidah tersebut dapat dipahami melalui contoh-contoh secara urut sebagai berikut : Pertama, dalam shalat tidak disyaratkan niat menentukan bilangan rakaat, kemudian mushalli niat shalat maghrib dengan 4 raka’at dan pelaksanaanya tetap 3 rakaat maka shalatnya tetap sah. Kedua, seseorang melakukan shalat dhuhur tetapi ia berniat asar maka shalatnya tidak sah. Ketiga, seseorang yang berniat bermakmun dengan si A dalam shalat berjama’ah, tetapi ternyata yang menjadi imam adalah si B maka shalat jama’ahnya tidak sah. Keempat, seseorang yang bersumpah tidak akan berbicara dengan seseorang, tetapi yang dimaksud adalah si A maka sumpahnya hanya berlaku dengan si A. Kelima, seorang yang junub atau orang yang berhadas, setelah niat memasukkan tangan pada air dalam tempat tertentu maka airnya menjadi musta’mal. Keenam, dalam suatu akad, bila terjadi perbedaan antara maksud (niat) si pembuat dengan lafal yang diucapkannya maka yang dianggap akad adalah niat/maksudnya selama yang demikian itu masih diketahui. Misalnya, ada dua orang yang bertransaksi dengan lafal akan memberi barang dengan syarat adanya pembayaran harga barang itu, maka transaksi ini dipandang sebagai transaksi jual beli karena transaksi inilah yang dimaksud atas makna dari pembuat transaksi, bukan transaksi pemberian sebagaimana yang dikehendaki oleh lafal. Ketujuh, seseorang yang berniat melakukan ibadah, tetapi karena sesuatu halangan ia tidak dapat menunaikannya maka ia tetap mendapatkan pahala.33
C. Lebih Jauh tentang Niat
Al-Silmi, mengatakan bahwa tujuan terpenting disyari’atkannya niat adalah untuk membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan.34 Dan menurut al-Syahari, sebagaimana dikutip Jaih Mubarok, adalah untuk membedakan tingkatan ibadah antara yang satu dengan yang lainnya.35 Seseorang yang tinggal di masjid mempunyaidua kemungkinan, yaitu i’tikaf dan sekedar numpang istirahat. Apabila i’tikaf maka harus dengan niat, dan bila yang kedua maka tidak perlu niat. Seorang kaya  yang  mengeluarkan  hartanya  memiliki  beberapa  kemungkinan, antara zakat,
infaq, shadaqah dan hibah. Apabila harta yang ia keluarkan karena yang pertama maka ia telah menunaikan kewajibannya sebagai orang kaya, yakni zakat. Dan apabila kerena shadaqah atau infaq maka ia telah melakukan ibadah sunnah. Atau karena sekedar ingin memberikan harta kepada orang lain tanpa mengharap apa-apa, itu juga perbuatan sunnah.
Mengenai tempat niat, ulama terbagi menjadi dua. Satu berpendapat bahwa niat cukup adanya dalam hati dan tidak perlu diucapkan; dan yang kedua adalah selain adanya di dalam hati niat harus diucapkan.36 Apabila terjadi perbedaan antara hati dan ucapan, maka dapat dipegang dhabith fiqh berikut ini :
لو اختلف   اللسان  والقلب فالعبرة بما في القلب37
“Apabila berbeda antara lisan dan hati, maka yang dijadikan pegangan adalah hati”.
Dhabith tersebut memunculkan beberapa dhabith yang lain, yaitu :
لو نوىبقلبه الوضؤ وبلسانه التبرد صح الوض38
“Apabila dalam hati bermaksud berwudhu, tetapi yang keluar dari lisannya adalah mendinginkan anggota badan, maka wudhunya tetap sah”.
لو نوى بقلبه الظهر وبلسانه العصر صح له ما في القلب39
“Apabila dalam hati bermaksud shalat dhuhur, tetapi yang keluar darilisan adalah shalat ashar, maka sahlah yang di dalam hati (shalat dhuhur)”.
لو نوى بقلبه الحج وبلسانه العمرة صح له ما في القلب40
“Jika dalam hati berniat haji, tetapi yang keluar dari lisan adalah umrah maka tetap sahlah yang di hatinya (ibadah haji)”.
Ada dua jenis perbuatan yang terkait dengan niat. Perbuatan pertama adalah yang diwajibkannya niat bila hendak melakukannya dan perbuatan kedua adalah yang tidak diperlukannya niat. Perbuatan yang baginya wajib ada niat juga dikategorikan menjadi dua. Pertama adalah perbuatan yang harus dilakukannya niat di awal atau sebelum dilakukannya perbuatan. Dan yang kedua adalah perbuatan yang niatnya dilakukan ketika berbuat.41
Sebagai contoh dari kedua tempat niat tersebut adalah amalan berikut ini. Menurut jumhur ulama niat zakat termasuk yang boleh didahulukan sebelum zakat diserahkan kepada yang berhak menerimanya. Sedangkan dalam shalat, niat harus berbarengan dengan shalat ketika mulai dikerjakan.42
Ada beberapa pengecualian dalam kaidah niat. Pengecualian-pengecualian tersebut adalah pertama, perbuatan yang sudah dengan sendirinya bernilai ibadah dan mustahil  bercampur  dengan  adat,  tidak  disyaratkan  adanya  niat. Sebagai  contoh adalah iman kepada Allah.43 Kedua, Seseorang yang bernazar hendak berzikir dan bershalawat tidak memerlukan niat. Ketiga, azan dan iqamat tidak memerlukan niat. Keempat, meninggalkan perbuatan maksiyat tidak memerlukan niat. Seperti niat untuk meninggalkan perbuatan zina44 atau mencuri. Kelima, keluar dari shalat juga tidak memerlukan niat.45
D. Penutup
Setelah memperhatikan uraian tentang niat di atas, ada satu hal yang dapat diangkat kepermukaan sebagai sebuah kesimpulan. Satu hal tersebut adalah bahwa niat merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan perbuatan. Selain niat dapat menentukan sah dan tidaknya sebuah perbuatan, juga dapat menentukan tentang kadar kualitas dan tingkatannya. Boleh jadi seseorang banyak berbuat, tetapi bisa jadi perbuatannya tidak bernilai apa-apa atau paling-paling sangat kecil nilainya.
Demikian makalah ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kritik dan saran serta diskusi sangat diperlukan untuk memperdalam makalah ini.

 

Catatan Akhir :
1 Dalam Bahasa Arab kaidah tersebut berbunyi : قصد الشيئ مقترنا بفعله . Lihat Ibrahim Al-Bajuri, Hasyiyat al-bajuri, (Semarang : Usaha Keluarga, t.th.) jilid I, hlm. 47.
2 Sebagaimana dikutip oleh As-Suyuthi dalam Al-Ashbah wa al-Nadla’ir, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, th. 1403 H), hlm. 33
3 Syarat adalah ketentuan yang harus ada (dikerjakan) sebelum sebuah perbuatan dilakukan oleh mukallaf. Lihat Drs. H. Muchlis Usman, M.A., Kaedah-Kaedah Ushuliyah, (Jakarta : Rajawali Pres, th. 2002), hlm. 109.
4 Jaih Mubarak, Kaidah Fiqh : Sejarah dan Kaidah Asasi, (Jakarta : Rajawali Pres, th. 2002), h. 119.
5 Sebagaimana dikutip oleh As-Suyuthi, Op-cit, hlm. 9. Selain hadis انماالاعمال بالنيات dua yang lainnya adalah  من احدث في امرنا هذا ماليس منه فهو رد  dan  الحلال بين والحرام بين .
6 Ibid, hlm. 9. Selain dua hadits tentang niat dan halal – haram, dua yang lainnya adalah  من حسن إسلام المرء تركه مالا يعنيه  dan  إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا . Ada juga yang mengatakan bahwa hadits yang keempat adalah  لا يكون المؤمن مؤمنا حتى يرضى لأخيه ما يرضى لنفسه . Selain itu ada juga yang masih berpendapat bahwa fiqh kembali kepada 5 hadits.
7  Jaih Mubarak, op-cit, hlm. 117.
8  M. Quraish Shihab, Lentera Hati, (Bandung : Mizan, th. 2000), cet. XX, hlm. 21.
9  QS. Al-Bayyinah : 5
10  QS. Ali Imran : 145
11 Muhammad bin Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari Al-Ja’fi, Al-Jami’us Shahih Al-Mukhtashar, (Beirut : Dar Ibn Katsir al-Yamamah, th. 198), Juz I, hlm. 3.
12 Muslim bin al-Hajjaj Abul Husain al-Qusyairi an-Naysyaburi, Shahih Muslim, (Beirut : Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi, t.th.) Juz 4, hlm. 2210.
13 Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, Sunan as-Sughra, ( Madinah al-Munawwarah : Maktabah Dar, th. 1989), hlm. 20.
14 Zainal Abidin Ibn Ibrahim ibn Nujaim, al-Asybah wa al-Nadha’ir ‘ala Madzhabi Abi Hanifat al-Nu’man, (Kairo : Mu’assasah al-Halbi wa Syirkah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, th. 1968) hlm. 6.
15 Ibid.
16 Jalaluddin as-Syuyuthi, op-cit, hlm. 49.
17 Jaih Mubarak, Op-cit, hlm. 114.
18 Ibid.
19Jalaluddin as-Syuyuthi, op-cit, hlm. 50. Kaidah ini senada dengan kaidah اليقين  لا يزول بالشك. Fi’il Mudhori’ يزال yang mabni majhul dirubah dengan يزول yang mabni ma’lum. Lihat Muhammad Amim al-Majdadi al-Barkati, al-Qawaid al-Fiqh, (Karantati : as-Shadaf bi Balsyariz, th. 1986), hal. 143.
20Jalaluddin as-Syuyuthi, Ibid, hlm. 76. Lihat juga Abd al-Qadir ibn Badran al-Dimsyaqi, al-Madchal ila MadzhabImam Ibn Hanbal, (Beirut : al-Muassasah al-Risalah, th. 1401 H), hlm. 298.
21 Jalaluddin as-Syuyuthi, Ibid, hlm. 83.
22 Jalaluddin as-Syuyuthi, Ibid, hlm. 89. Bandingkan dengan kaidah العادة  حاكمة. Lihat Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan ibn Ali bin Sulaian bin Umar bin Muhammad,Kitab at-Taqrir wa at-Tahyir fi ilm al-Ushul al-Jami’ baina Istilah al-Hanafiah wa al-Syafi’iyyah, (Beirut : Dar al-Fikr, th. 1996), juz 3, hlm. 112.
23 Abdul Hamid Hakim, as-Sulam, (
Jakarta : Sya’diyah Putra, t.th), hlm. 73.
24 Ibid.
25 Ibid.
26 as-Syuyuthi, Op-cit, hlm. 44.
27 Ibid.
28 Muhammad Amim al-Majdadi al-Barkati, Op-cit, hlm. 91.
29 Abdul Hamid Hakim, Op-cit, hlm 74.
30As-Suyuthi, Op-Cit, hlm. 158
31Al-Barkati, Op-cit, hlm. 117
32Ibid, hlm. 119.
33 Drs. H. Muchlis Usman, MA, Op-cit, hlm. 110-114.
34 Abi Muhammad Izz al-Din Abd al- Aziz bin Abd al-Salam al-Silmi, Qawad al-Ahkam fi Ushul al-Anam, (Beirut :  Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th.), hlm. 180.
35 Lihat Jaih Mubarok, Op-cit, hlm. 123.
36 Ibid, hlm. 125.
37 al-Syuyuthi, Op-cit, hlm 30.
38 Ibid.
39 Ibid.
40 Ibid.
41 Pendapat di atas adalah diungkapkan oleh Muhammad Sidqi Ibn al-Burnu dalam bukunya al-Wajiz fi Idhah al-Fqh al-Kulliyat, sebagaimana dikutip Jaih Mubarok. Lihat hlm. 125.
42 Ibid, sekalipun demikian, para ulama ada yang berbeda pendapat tentang tempat niat bagi masing-masing perbuatan.
43 al-Suyuthi,Op-cit, hlm. 67
44 Ibnu Nujaim, Op-cit, hl. 26.
45 Ibid.

 

DAFTAR PUSTAKA
Abd al-Hamid Hakim, al-Sulam, Sa’diyah Putra, Jakarta, t.th.
Al-Baihaqi, Muhammad ibn al-Husain ibn Ali, al-Sunan al-Shughra, Maktabah al-Dar, al-Madinah al-Munawwarah, th. 1989.
Al-Bajuri, Ibrahim, Hasyiyat al-Bajuri, jilid I , Usaha Keluarga, Semarang , t.th.
Al-Barkati, Muhammad Amim al-Ihsan al-Majdadi, Qawaid al-Fiqh, : as-Shadaf bi Balsyariz, Karantati, th. 1986

=”MsoNormal” style=”margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -70.9pt;”>Al-Dimsyaqi, Abd al-Qadir ibn Badran, al-Madchal ila Madzhab al-Imam Ahmad ibn Hanbal, Muassasah al-Risalah, Beirut, th. 1401 H.

Al-Ja’fi, Muhammad ibn Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, Beirut, th. 1987.
Al-Naisyaburi, Muslim ibn al-Hajjaj Abu al-Khusain al-Qusyairi, Shahih Muslim, Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, Beirut, t.th.
Al-Silmi, Abi Muhammad Izz al-Din Abd al-Aziz ibn Abd al-Salam, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, Beirut, t.th.
Al-Syuyuthi, Abd al-Rahman ibn Abi Bakar, al-Asybah wa al-Nadhair, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, th. 1403 H.
Ibn Muhammad, Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan ibn Ali ibn Sulaiman ibn Umar, Kitab al-Taqrir wa al-Tahyir fi Ilm al-Ushul al-Jami’ Baina Iastilah al-Hanafiyyah wa al-Syafi’iyyah, Dar al-Fikr, Beirut, th. 1996.
Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh : Sejarah dan Kaidah Asasi, Rajawali Pres, Jakarta, th. 2002.
M. Quraish Shihab, Lentera Hati, Mizan, Bandung, th. 2000.
Muchlis Usman, MA, Drs. H., Kaidah-Kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah, Rajawali Pres, Jakarta, th. 2002.
Nujaim, al-Syaikh Zainal Abidin ibn Ibrahim ibn, al-Asybah wa al-Nadhair, Muassasah al-Halbi wa Syirkah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, Kairo, th. 1968.
tags: , , , , ,