Sodikin Masrukhin

Pengalaman Menjadi Guru Di Sekolah Pinggiran

Saturday, January 12th 2013. | Pendidikan | 1610 x dibaca

Blog Pendidikan – Dalam posting ini saya ingin berbagi pengalaman dalam mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Pengalam yang saya maksud adalah mengajar dan mendidik anak-anak di sebuah lembaga pendidikan swasta pinggiran yang hampir 90 persennya adalah dari kalangan tidak mampu atau miskin. Pengalaman ini tidak sekedar sebagai sebuah perjalanan dan catatan hidup saya, tetapi lebih jauh daripada itu.

Dalam pengalaman mengajar dan mendidik dalam situasi yang para siswanya sebagian besar adalah tidak mampu atau miskin ada banyak hal yang menarik. Ada kelucuan, kenestapaan, kegembiraan, optimisme, pesimisme, ketidakpedulian orang tua, dan ironi pendidikan. Tetapi dalam kesempatan ini, saya hanya akan mengungkapkan beberapa saja.

Sungguh bukan hal mudah berdinas pada sekolah yang para siswanya sebagian besar adalah miskin. Banyak kendala dan masalah (atau lebih tepat disebut sebagai tantangan) yang harus dihadapi. Suka bercampur duka harus bercampur menjadi satu dalam keseharian.

Anda para guru yang belum pernah mengalaminya, sudah bisa dipastikan tidak akan bisa membayangkan. Anda sudah terbiasa berada dalam sekolah dan kelas yang segalanya telah siap dan ada pasti kesulitan saat berada dalam lingkungan seperti yang saya alami.

Berikut ini adalah beberapa hal yang saya alami dalam menjalankan profesi sebagai pendidik pada sekolah swasta dengan mayoritas siswanya miskin.

  1. Minat belajar yang sangat rendah. Meskipun ada yang memiliki semangat tinggi, tekun dan sungguh-sungguh, namun sebagaian besar dari mereka tidak memiliki kesungguhan dalam belajar.
  2. Tidak mempunyai cita-cita. Melihat semangat belajar yang rendah, saya sering bertanya kepada siswa di setiap kelas dan setiap tahunnya tentang cita-cita mereka. Dan bisa dipastikan mereka tidak memiliki gambaran cita-cita mereka kecuali hanya satu atau dua siswa. Mungkin karena tidak mempunyai cita-cita yang hendak diraih di kemudian hari inilah maka mereka tidak termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
  3. Mudah menyerah. Kemiskinan dan kesulitan hidup yang mereka alami selalu dijadikan bingkai penghalang kemajuan bagi mereka. Semangat merubah keadaan tidak ada pada mereka. Bagi mereka, kesempatan untuk maju dan pandai sudah tidak mungkin lagi dengan kondisinya sekarang.
  4. Tidak berminat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemiskinan yang mereka alami selalu menjadi alasan untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika dianjurkan kepada mereka untuk melanjutkan sekolah setelah lulus nanti, jawabannya selalu sama “tidak ada biaya!”.
  5. Rendahnya partisipasi orang tua dalam proses pendidikan anak-anaknya. Hal ini bisa dilihat dari pakaian anak , sepatu dan tas yang sudah mulai compang-camping namun tidak pernah diganti dengan yang baru oleh orang tua. Anak berangkat atau tidak, juga tidak dipantau oleh orang tua. Bahkan seragam batik yang sudah berubah warna menjadi putih polospun tidak dibelikan gantinya. Berbagai tugas yang harus diselesaikan anak juga tidak dipantau oleh orang tua.

Demikianlah sebagian pengalaman saya selama menjadi guru sejak tahun 1998 hingga sekarang. Apa yang saya tulis dalam posting ini belumlah seberapa. Masih banyak lagi pengalaman lainnya yang beum saya tulis. Mungkin lain waktu saya tuliskan, atau mungkin ada pembaca (rekan guru) yang berkenan berbagi pengalamannya di sini (melalui form komentar).

Upaya

Melihat keadaan itu tentu saya tidak cukup hanya dengan prihatin. Saya bersama rekan guru yang lain bertindak dalam sebuah sistem telah melakukan berbagai upaya sesuai dengan kemampuan.

Upaya-upaya yang saya dan rekan yang lain lakukan dengan tiada henti dan setiap saat adalah antara lain:

  1. Menyadarkan bahwa pendidikan itu penting. Untuk dapat merubah keadaan harus dilakukan dengan ilmu. Dan ilmu itu diperoleh melalui pendidikan.
  2. Menekankan pentingnya memiliki cita-cita hidup dan berupaya meraihnya.
  3. Menanamkan bahwa kemiskinan bukanlah penghalang bagi kemajuan dan keberhasilan. Siapapun dapat maju dan berhasil. Kunci keberhasilan terletak pada kemauan yang keras. Memberikan bacaan-bacaan tentang orang sukses dengan latar belakang kemiskinan adalah salah satu hal yang dilakukan.
  4. Mendatangkan motivator dari luar sekolah
  5. Khusus bagi orang tua, dikumpulkan setiap bulan sekali guna diberikan penyadaran tentang perlunya partisipasi mereka bagi pendidikan anak-anaknya. Keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah, tetapi juga kepada orang tua. Dalam kesempatan itu, orang tua dapat berkonsultasi dengan pihak sekolah tentang kesulitan anak-anaknya.

Demikianlah posting tentang Pengalaman Mengajar Di Sekolah Pinggiran yang saya alami. Saya sangat berharap posting ini bermanfaat.

Namun, saya tidak berani memastikan, apakah secara umum ada korelasi antara kesungguhan dan minat belajar dengan kondisi sosial ekonomi anak. Maksudnya, apakah anak-anak yang memang mengalami kesulitan hidup serta berada di bawah garis kemiskinan selalu memiliki problem belajar seperti yang saya ceritakan?

Copyright © Pak-Sodikin.Com. All Right Reserved.

tags: ,

Pengalaman Menjadi Guru Di Sekolah Pinggiran
Blog Pendidikan | Pengalaman Menjadi Guru Di Sekolah Pinggiran yang sedang Anda baca merupakan judul posting yang diunggah Pak-Sodikin.Com | Catatan seputar Indonesia, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Agama pada 12 January 2013 jam 11:01 WIB. Posting dengan judul Pengalaman Menjadi Guru Di Sekolah Pinggiran ini diharapkan memberikan manfaat bagi pembaca. Dan hingga saat ini telah 1610 x dibaca.

Author : Sodikin Masrukhin


Jika artikel "Pengalaman Menjadi Guru Di Sekolah Pinggiran" bermanfaat, silakan di-share melalui jejaring berikut ini:

3 Responses to “Pengalaman Menjadi Guru Di Sekolah Pinggiran”

  1. Suatu pengalaman yang menarik untuk dibagi dengan kita semua Pak. Inilah fakta lapangan yang sebenarnya yang harus diselesaikan bersama terutama oleh pemerintah.

  2. kurniasepta says:

    Ya seperti itulah, di antara keterbatasan masih ada tantangan. Semangat Pak

  3. Guru Muda says:

    tentunya mengajar di pinggiran banyak tantangan dan segudang pengalaman. Saya pun berhasrat ingin berbagi dengan mereka. Bila memang saya ditakdirkan mengajar di pedalaman, insya Allah saya siap

Leave a Reply