Prinsip-Prinsip Ibadah Kepada Allah

Tuesday, May 8th 2012. | Masalah Agama

Didalam beribadah ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan agar ibadah kita diterima oleh Allah SwT. Bila prinsip-prinsip tersebut tidak dijaga dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka ibdah yang kita lakukan akan ditolak.

Prinsip-prinsip ibadah ini dapat kita pahami dari Al-Qur’an. Dalam beberapa ayat dijelaskan apa yang harus kita perhatikan dalam menjalankan ibadah kepada Allah.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip dalam beribadah kepada Allah yang disarikan dari beberapa ayat Al-Qur’an :

Prinsip utama dalam ibadah adalah hanya menyembah kepada Allah

Dalam beribadah kepada Allah harus benar-benar hanya kepada Allah. Artinya kita tidak diperbolehkan menyekutukan Allah dengan yang lain. Dalam seluruh hidup kita, segala aktifitas diarahkan sebagai bentuk pengabdian hanya kepada Allah dan bukan yang lain.

Hal ini didasarkan kepada QS an-Nisa : 36 dan beberapa ayat yang lain “Dan sembahlah Allah dan janganlah kami mempersekutukannya dengan sesuatu apapun….”. Jelas sekali dikatakan bahwa ada perintah menyembah Allah dan sekaligus adanya larangan untuk tidak mempersekutukannya.

Apa yang tersebut dalam an-Nisa : 36 tersebut identik dengan apa yang tersurat dalam QS. Al-fatihah : 4, “hanya kepada-Mu kami menyembah…”.

Prinsip ibadah kedua adalah ikhlas yakni murni hanya mengharap ridha Allah SWT.

Dalam beribadah kepada Allah, niat menempati peran penting. Dikatakan penting karena niat dapat menentukan diterima atau tidaknya ibadah kita.

Niat beribadah harus benar-benar murni karena Allah dan hanya mengharap ridho-Nya. Jangan maksud-maksud lain di balik kita melakukan kebaikan. Sebagai contoh kecil adalah saat kita melakukan kebaikan, dalam hati terbersit keinginan untuk dipuji orang lain maka hal ini dikatakan tidak ikhlas karena Allah.

Dalam QS. Al-Bayyinah : 5 disebutkan, “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”.

Prinsip beribadah yang ketiga adalah harus sesuai dengan tuntunan dan mencontoh Nabi Muhammad saw.

Dalam beribadah kepada Allah, kita tidak diperbolehkan menambah atau mengurangi kaifiyah dan bacaan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Menambah dan mengurangi berarti kita telah melakukan bid’ah.

Beribadah harus didasarkan kepada nash Al-Qur’an dan Hadits Sahih. Bila terdapat hal yang tidak termaktub dalam keduanya maka ibadah didasarkan dengan ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mendasarkan diri dalam beribadah kepada Allah dengan Al-Qur’an dan Hadits sahih adalah mutlak diperlukan. Jangan sampai kita beribadah tidak mendasarkan kepada keduanya, apalagi mendasarkan kepada Hadits dha’if dan maudhu’. “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr : 7)

Prinsip beribadah yang keempat adalah tanpa perantara

Maksud dari prinsip diatas adalah kita tidak diperbolehkan menggunakan wasilah atau hal-hal yang menyebabkan kita tidak beribadah secara langsung kepada Allah. Dosa dan pahala manusia adalah hasil jerih payah manusia sendiri. Pahala yang kita terima tidak dikarenakan perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Demikian juga dosa yang kita terima, bukan karena ma’siyat orang lain tetapi karena perbuatan kita sendiri juga.

Demikian juga ketika berdo’a, kita tidak diperbolehkan melalui perantara orang-orang yang sudah meninggal. Bermohonlah langsung kepada Allah dengan penuh harap dan ketaatan. Dekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak amal soleh, insya Allah do’a kita akan terkabul.

Tidak perlunya perantara karena Allah sudah sangat dekat dengan kita. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,” (QS. Qaf :16).

Prinsip beribadah yang kelima adalah seimbang antara unsur jasmani dengan rohani

Kita tidak diperbolehkan berat sebelah. Maksudnya adalah kita tidak diperkenankan untuk lebih menitikberatkan pada salah satu kepentingan dunia atau akhirat. Perintah Allah adalah kedua-duanya. “Dan carilah apa yang Allah berikan kepadamu berupa (kebahagiaan) negeri akhirat, namun jangan kamu lupa bagianmu (nasibmu) dari (kenikmatan) dunia….” (QS. Al Qashash : 77)

Prinsip beribadah yang keenam adalah mudah dan meringankan

Allah menghendaki yang mudah dan tidak mengehendaki yang sulit (QS. Al-Baqarah : 185) dan Allah juga tidak memberikan beban taklif kepada manusia kecuali sesuai dengan kemampuannya, “Allah tidak membebani seorang manusia kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al Baqarah : 286) “Dan tidaklah Dia (Allah) menjadikan agama bagimu sebagai beban….” (QS. Al Hajj/22 : 78).

Demikian tulisan tentang Prinsip-Prinsip Ibadah kepada Allah, semoga bermanfaat.

tags: , , , ,